Entri Populer

Jumat, 23 Maret 2012

makalah ilmu kalam:hubungan ilmu kalam dengan tasawuf dan filsafat


MAKALAH AKIDAH KALAM I
HUBUNGAN ILMU KALAM,DENGAN FILSAFAT,DAN TASAWUF




Makalah disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Akidah Kalam yang diampu
Oleh Drs. H. Imam Faqih, MSI


Disusun Oleh :
Nama:Syamsu Muzakki
Semester : 2 A


SEKOLAH TINGGI  ILMU TARBIYAH NAHDLATUL ULAMA PACITAN
Jl.Brigjend. S Parman no.44B(0357)885635  PACITAN
2011/2012
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi ALLAH Tuhan semesta alam,dalam waktu yang relatif singkat,makalah yang berjudul “Hubungan Ilmu Kalam,dengan Filsafat,dan Tasawuf” terselesaikan dengan baik.
Adanya makalah ini tentu saja melibatkan bantuan dari berbagai pihak.Untuk itu,kami ucapkan terimakasih kepada:
   1.Orang tua yang telah mendo’akan,membimbing,dan memberikan motivasi agar kami senantiasa rajin dalam menuntut ilmu.
   2. Drs. H. Imam Faqih, MSI, sebagai dosen pengampu mata kuliah Akidah Kalam I yang telah memberikan tugas dan memberikan arahan.
   3.Sahabat – sahabat yang telah membantu menyelesaikan tugas ini.
Penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu,kritik dan saran yang membangun dari pembaca senantiasa diharapkan.Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.Mohon maaf  jika terjadi salah penulisan pada makalah ini.





Penyusun







DAFTAR ISI

Halaman Judul.....................................................................................................................      i
Kata Pengantar...................................................................................................................       ii       
Daftar Isi..............................................................................................................................     iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang..........................................................................................................     1
1.2.Rumusan Masalah.....................................................................................................      1
1.3.Tujuan pembahasan..................................................................................................      1
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Ilmu Kalam......................................................................................................              2
2.1.a.Pengertian Ilmu kalam....................................................................................      2
2.1.b.Sumber-sumber ilmu kalam............................................................................      3
2.2. Filsafat......................................................................................................................     6
2.3. Tasawuf....................................................................................................................     7
2.3.a.Pengertian tasawuf..........................................................................................     7
2.3.b.Tujuan Tasawuf..............................................................................................      8
2.3.c.Sumber  ajaran Tasawuf.................................................................................      9
2.4.Hubungan ilmu kalam,filsafat dan Tasawuf.............................................................      10
BAB III PENUTUP
3.Kesimpulan..................................................................................................................      11
Daftar Pustaka......................................................................................................................     12





BAB I
PENDAHULUAN


1.1. LATAR BELAKANG
 Ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf adalah ilmu yang dilahirkan dari persentuhan umat Islam dengan berbagai masalah sosiocultural yang dihadapi oleh masyarakat sedang berkembang kala itu yang mencari dan mempertahankan kebenaran. Dari itu pula lahirlah para pakar dunia yang telah berhasil mempertahankan kebenara mereka masing- masing, walaupun dengan cara atau jalan yang ditempuh berbeda. Maka dari itu pada makalah ini akan memebahas tentang  Ilmu Kalam, Tasawuf, dan Filsafat beserta hubungan ketiganya agar para pembaca mengetahui dan memahami hakikat ketiganya serta hubungan ketiganya.

1.2. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Ilmu Kalam itu?
Bagaimana pengertiannya dan Apa saja sumber-sumbernya?
2. Apa
Filsafat itu?
3. Apa
Tasawuf itu?Apa tujuan tasawuf dan Apa saja sumber-sumbernya?
4. Bagaimana hubungan Ilmu Kalam, tasawuf, dan filsafat?

1.3. TUJUAN PEMBAHASAN
1. Mengetahui dan memahami
pengertian ilmu kalam beserta sumber-sumbernya.
2. Mengetahui dan memahami
Filsafat
3. Mengetahui dan memehami
Tasawuf,dan Tujuannya.
4. Mengetahui dan memahami hubungan Ilmu Kalam, Tasawuf, dan Filsafat










BAB II
PEMBAHASAN

2.1. ILMU KALAM
   2.1.aPengertian Ilmu Kalam
Ilmu Kalam adalah salah satu dari empat disiplin keilmuan yang telah tumbuh dan menjadi bagian dari tradisi kajian tentang agama Islam. Tiga lainnya ialah disiplin-disiplin keilmuan Fiqh, Tasawuf, dan Filsafat. Jika Ilmu Tasawuf membidangi segi-segi penghayatan dan pengamalan keagamaan yang lebih bersifat pribadi, sehingga tekanan orientasinya pun sangat esoteristik, mengenai hal-hal batiniah, kemudian Ilmu Filsafat membidangi hal-hal yang bersifat perenungan spekulatif tentang hidup ini dan lingkupnya seluas-luasnya, maka Ilmu Kalam mengarahkan pembahasannya kepada segi-segi mengenai Tuhan dan berbagai derivasinya.
Sebagai unsur dalam studi klasik pemikiran keislaman. Ilmu Kalam menempati posisi yang cukup terhormat dalam tradisi keilmuan kaum Muslim. Ini terbukti dari jenis-jenis penyebutan lain ilmu itu, yaitu sebutan sebagai Ilmu Aqaid (ilmu akidah-akidah), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang Kemaha Esa-an Tuhan), Ilmu Ushuluddin (Ilmu pokok-pokok agama)dan disebut juga 'Teologi Islam' atau  Berarti ilmu tentang keTuhanan yang didasarkan atas prinsip-prinsip dan ajaran Islam; termasuk di dalamnya persoalan-persoalan ghaib.
Abu Hanifah menyebut nama ilmu ini dengan Fiqh al-akbar.Menurut persepsinya,disebut dengan istilah  fiqh al-akbar,karena membahas masalah keyakinan atau pokok-pokok agama atau ilmu Tauhid.Sementara itu,seorang filsuf besar Islam,Al-Farabi mendefinisikan sebagai berikut:






Artinya:Ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang membahas Dzat dan Sifat Allah beserta eksistensi smua yang mungkin,mulai yang berkenan dengan masalah dunia sampai masalah sesudah mati yang berlandaskan doktrin islam,Penekanan akhirnya adalah membuat Ilmu KeTuhanan secara filosofis.
Selain itu,Ibnu Khaldun mendefinisikan ilmu kalam sebagai berikut:




Artinya:”Ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang akidah imani yang diperkuat dalil-dalil rasional.
Berdasarkan definisi-definisi di atas,ilmu kalam adalah Ilmu yang membahas berbagaimasalah keTuhanan,dengan menggunakan argumentasi logika atau filsafat.
Seperti kita ketahui,pada dasarnya islam mengandung dua aspek ajaran.Yaitu aspek amalan lahir dan batin.Sehingga Ibnu Khaldun menyebut dua aspek tersebut dengan istilah al-takalif al-badaniyah dan al-takalif al-qalbiyah.Pembagian aspek tersebut memang sangat tepat dan juga sesuai dengan perkembangan disiplin ilmu yang berkaitan dengan dua aspek ajaran tadi.Seperti kita tahu dalam islam mengatur amalan-amalan lahiri,baik ibadah dan mu’amalah.Disisi lain dalam islam juga mengatur tentang amalan batin(qalbiyah),yang dalam hal ini menjadi obyek kajian Ilmu kalam.
    2.1.b.Sumber – sumber ilmu kalam
a.Al-Qur’an
Sebagai sumber ilmu kalam,al-Qur’an banyak menyinggung hal yang berkaitan dengan masalah keTuhanan,di antaranya adalah:
Ø    Q.S. Al-ikhlas : 3-4
öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ôs9qムÇÌÈ   öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr& ÇÍÈ  
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Ayat diatas menunjukkan bahwa Tuhan tidak beranak dan tidakpula diperanakkan,serta tidak ada sesuatu di dunia ini yang tampak sekutu atau sejajar dengan-Nya
Ø     Q.S. Al-Furqon : 59
Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur $tBur $yJßguZ÷t/ Îû Ïp­GÅ 5Q$­ƒr& ¢OèO 3uqtGó$# n?tã   Ä¸öyèø9$# 4 ß`»yJôm§9$# ö@t«ó¡sù ¾ÏmÎ/ #ZŽÎ6yz ÇÎÒÈ
59. yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy[1071], (Dialah) yang Maha pemurah, Maka Tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.

[1071] Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.
Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan Yang  Maha Penyayang Bertahta diatas “arsy”,Ia Pencipta langit,bumi,dan semua yang ada di antara keduanya.Dan masih banyak ayat-ayat lain yang menerangkan hal-hal yang berkaitan dengan keTuhanan seperti Q.S.As-syuro:7,Q.S.Al-Fath:10,Q.S.Thoha:39,,dan masih banyak lainnya.
b.Hadis
Hadis Nabi SAW pun banyak membicarakan masalah-masalah yang dibahas ilmu kalam.diantaranya:










Hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar.Ia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda,”akan menimpa umatku apa yang pernah menimpa Bani Israil.Bani Israil telah terpecah – belah menjadi 72 golongan dan ummatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan.Semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan sajam”siapa mereka itu ya Rasulullah?tanya para sahabat,Rasulullah menjawab”Mereka adalah yang mengikuti jejakku dan sahabat-sahabatku.”
Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani,hadis yang berkaitan dengan masalah faksi ummat ini yang merupakan salah satu kajian ilmu kalam.Keberadaan hadits yang berkaitan dengan perpecahan ummat seperti diatas,pada dasarnya merupakan prediksi Nabi dengan melihat yang ada di hati sahabat-sahabatnya.Oleh karena itu,hadits-hadits tersebut sering dikatakan sebagai peringatan kepada sahabat-sahabat Nabi dan Ummat islam,betapa bahayanya perpecahan dan betapa pentingnya persatuan.
c.Pemikiran Manusia
            Pemikiran manusia dalam hal ini berasal dari pemikiran ummat islam sendiri maupun pemikiran yang berasal dari luar ummat islam.Sebelum pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar ummat islam berkembang dan masuk dalam dunia islam.Ummat islam sendiri telah menggunakan pemikiran rasionalnya untuk menjelaskan hal-hal yaang berkaitan dengan ayat-ayat al-qur’an,terutama yang belum jelas maksudnya.Dalam Qur’an surat Qoof ayat 6-7 disebutkan
óOn=sùr& (#ÿrãÝàZtƒ n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# ôMßgs%öqsù y#øx. $yg»oYøt^t/ $yg»¨Y­ƒyur $tBur $olm; `ÏB 8lrãèù ÇÏÈ   uÚöF{$#ur $yg»tR÷ŠytB $uZøŠs)ø9r&ur $pkŽÏù zÓźuru $uZ÷Fu;/Rr&ur $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. £l÷ry 8kŠÎgt/ ÇÐÈ  
6. Maka Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ?
7. dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata,
                Dari ayat diatas,secara tidak langsung terdapat motivasi,anjuran,bahkan tersirat perintah kepada manusia untuk menggunakan rasio.Dengan demikian,jika seorang muslim melakukan suatu kajian objek tertentu dengan rasionya,secara teoritis bukan karena adanya pengaruh dari luar saja,namun semata-mata adanya perintah langsung dari Al-Qur’an.Bentuk nyata penggunaan pemikiran islam sebagaii ilmu kalam adalah ijtihad yang dilakukan oleh para mutakallim dalam persoalan-persoalan tertentu yang tidak ada penjelasannya dalam Al-Qur’an dan Hadis.
c.INSTING
Secara instingtif manusia terlahir dengan insting berTuhan.Artinya mereka terlahir dengan sifat ingin bertuhan,sejak manusia pertama.Hal ini sesuai dengan adanya animisme,dinamisme,dll.Menurut Abbas Mahmoud Al-akkad,bahwa keberadaan mitos merupakan asal-usul adanya agama di kalangan orang-orang primitif.Mereka menyembah pepohonan,benda-benda mati,roh-roh.Dari masa ke masa mengalami perkembangan,orang-orang primitif mulai menyembah benda-benda alam lain,seperti matahari,bahkan benda-benda seperti api juga dipuja.Dengan kata lain dapat disimpulkan addanya kepercayaan terhadap Tuhan ada sejak adanya manusia pertama.

2.2. FILSAFAT.
Menurut Al-Farabi filasafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosiphia. Philo berarti cinta dan shopia berarti hikmah atau kebenaran. Menurut Plato, filsuf Yunani yang termashur, murid Scorates dan guru Aristoteles mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang ada.
Al- Farabi filosuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan brtujuan menyelidiki hakikatnya yang sebenarnya. Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup metafisika, etika, agama, dan antripologi. Menurutnya, tujuan filsafat itu memikirkan kebenaran, karena kebenaran itu hanya ada satu,tidak ada yang lain .Al-Farabi berkeyakinan bahwa agama dan filsafat tidak bertentangan, justru sama-samamembawa kebenaran . Hal ini terbukti dengan karangannya yang berjudul Al-Jam’ Baina Ra’yani Al-Hakimain dengan maksud mempertemukan pikiran-pikiran plato dengan Aristoteles.
Sedangkan menurut Al-Kindi tentang keesaan Tuhan selain didasarkan pada wahyu juga proposisi filosofis. Menurut dia, Tuhan tak mempunyai hakikat, baik hakikat secara juziyah atau aniyah (sebagian) maupun hakikat kulliyyah atau mahiyah (keseluruhan).Dalam pandangan filsafat Al-Kindi, Tuhan tidak merupakan genus atau species. Tuhan adalahPencipta. Tuhan adalah yang Benar Pertama (al-Haqq al-Awwal) dan Yang Benar Tunggal. AL-Kindi juga menolak pendapat yang menganggap sifat-sifat Tuhan itu berdiri sendiri. Tuhan haruslah merupakan keesaan mutlak. Bukan keesaan metaforis yang hanya berlaku pada obyek-obyek yang dapat ditangkap indera.Menurut Al-Kindi, Tuhan tidak memiliki sifat-sifat dan atribut-atribut lain yang terpisah dengan- Nya, tetapi sifat-sifat dan atribut-atribut tersebut haruslah tak terpisahkan dengan Zat-Nya. Menurutnya, daya yang paling penting adalah daya berpikir, karena bisa mengangkat eksistensi manusia ke derajat yang lebih tinggi.Al-Kindi juga membagi akal mejadi tiga, yakni akal yang bersifat potensial, akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi aktual, dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dariaktualitas.Akal yang bersifat potensial, papar Al-Kindi, tak bisa mempunyai sifat aktual, jika tak adakekuatan yang menggerakkannya dari luar. Oleh karena itu, menurut Al-Kindi, masih ada satu macam akal lagi, yakni akal yang selamanya dalam aktualitas.
Dalam filasafat terdapat dua obyek yaitu obyek materia dan obyek formanya. Obyek materianya adalah yang ada pada garis besarnya dibagi atas tiga persoalan, yaitu: Tuhan, alam, dan manusia. Sedangkan Obyek forma nya adalah usaha mencari keterangan secara radikal ( sedalam-dalamnya) tentang obyek materi filsafat ( yang ada)

2.3. TASAWUF.
2.3.a. Pengertian Tasawuf.
Istilah "tasawuf"(sufism), yang telah sangat populer digunakan selama berabad-abad, dan sering dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf Arab, sha, wau dan fa. Banyak pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa fa. Ada yang berpendapat, kata itu berasal dari shafa yang berarti kesucian atau bersih. Sebagian berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata shafwe yang berarti baris atau deret, yang menunjukkan kaum Muslim awal yang berdiri di baris pertama dalam salat atau dalam perang suci. Sebagian lainnya lagi berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata shuffah yang berarti serambi masjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh para sahabat-sahabat nabi yang miskin dari golongan Muhajirin. Ada pula yang menganggap bahwa kata tasawuf berasal dari shuf yang berarti bulu domba, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang tertarik pada pengetahuan batin kurang memperdulikan penampilan lahiriahnya dan sering memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang kasar sebagai simbol kesederhanaan.
Harun Nasution mendefinisikan tasawuf sebagai ilmu yang mempelajari cara dan jalan bagaimana orang Islam dapat sedekat mungkin dengan Alloh agar memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan bahwa seseorang betul-betul berada di hadirat Tuhan.Ada sebagian orang yang mulai menyebut dirinya sufi, atau menggunakan istilah serupa lainnya yang berhubungan dengan tasawuf, yang berarti bahwa mereka mengikuti jalan penyucian diri, penyucian "hati", dan pembenahan kualitas watak dan perilaku mereka untuk mencapai maqam (kedudukan) orang-orang yang menyembah Allah seakan-akan mereka melihat Dia, dengan mengetahui bahwa sekalipun mereka tidak melihat Dia, Dia melihat mereka. Inilah makna istilah tasawuf sepanjang zaman dalam konteks Islam.
Imam Junaid dari Baghdad (910 M.) mendefinisikan tasawuf sebagai "mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah". Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (1258 M.) syekh sufi besar dari Afrika Utara mendefinisikan tasawuf sebagai "praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan". Syekh Ahmad Zorruq (1494 M.) dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut: Ilmu yang dengannya dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan tentang jalan Islam, khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata. Ia menambahkan, "Fondasi tasawuf ialah pengetahuan tentang tauhid, dan setelah itu memerlukan manisnya keyakinan dan kepastian; apabila tidak demikian maka tidak akan dapat mengadakan penyembuhan 'hati'." 
Menurut Syekh Ibn Ajiba (1809 M): Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya Anda belajar bagaimana berperilaku supaya berada dalam kehadiran Tuhan yang Maha ada melalui penyucian batin dan mempermanisnya dengan amal baik. Jalan tasawuf dimulai sebagai suatu ilmu, tengahnya adalah amal. dan akhirnva adalah karunia Ilahi.


2.3.b.Tujuan Tasawuf
Tasawwuf sebagai mana disebutkan dalam artinya di atas, bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan dan intisari dari itu adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad atau menyatu dengan Tuhan. Dalam ajaran Tasawuf, seorang sufi tidak begitu saja dapat dekat dengan Tuhan, melainkan terlebih dahulu ia harus menempuh maqamat . mengenai jumlah maqomat yang harus di tempuh sufi bebrbeda-beda.
Abu Nasr Al- Sarraj menyebutkan tujuh maqomat yaitu tobat, wara, zuhud, kefakiran, kesabaran, tawakkal, dan kerelaan hati. Dalam perjalananya seorang shufi harus mengalami istilah hal .Hal atau ahwal yaitu sikap rohaniah yang dianugrahkan Tuhan kepada manusia tanpa diusahakan olehnya, seperti rasa takut( al- khauf) , ikhlas, rasa berteman, gembira hati, dan syukur. Jalan selanjutnya adalah fana' atau lebur dalam realitas mutlak (Allah). Manusia merasa kekal abadi dalam realitas yang Tertinggi, bahkan meleburkan kepadaNya. Maksudnya, menghancurkan atau mensinarkan diri agar dapat bersatu dengan Tuhan.
Menurut Taftazani seseorang yang bertasawuf mempunyai beberapa ciri yaitu:
Peningkatan moral, seorang sufi memiliki nilai-nilai moral dengan tujuan membersihkan jiwa. Yaitu dengan akhlak dan budi pekerti yang baik berdasarkan kasih dan cinta kepada allah, oleh karena itu, maka tasawuf sangat mengutamakan adab/ nilai baik dalam berhubungan dengan sesama manusia dan terutama dengan Tuhan (zuhud, qonaah, thaat, istiqomah, mahabbah, ikhlas, ubudiyah, dll).
Sirna (fana) dalam realitas mutlak (Allah). Manusia merasa kekal abadi dalam realitas yang Tertinggi, bahkan meleburkan kepadaNya. Maksudnya, menghancurkan atau mensinarkan diri agar dapat bersatu dengan Tuhan. Dan Ketenteraman dan kebahagiaan. 2.3.c.Sumber Ajaran Tasawuf
Sumber ajaran tasawuf adalah al-Qur'an dan Hadits yang didalamnya terdapat ajaran yang dapat membawa kepada timbulnya tasawuf. Paham bahwa Tuhan dekat dengan manusia,yang merupakan ajaran dasarnya dapat dijelaskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 186:
#sŒÎ)ur y7s9r'y ÏŠ$t6Ïã ÓÍh_tã ÎoTÎ*sù ë=ƒÌs% ( Ü=Å_é& nouqôãyŠ Æí#¤$!$# #sŒÎ) Èb$tãyŠ ( (#qç6ÉftGó¡uŠù=sù Í<      (#qãZÏB÷sãø9ur Î1 öNßg¯=yès9 šcrßä©ötƒ ÇÊÑÏÈ  
186. dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Dari ayat diatas,tersirat bahwa Allah akan dekat dengan seorang hamba apabila hamba itu mau berdoa serta mendekatkan dirinya pada ALLAH.Juga secara tak langsung dalam ayat diatas tersirat sebuah perintah agar seorang hamba bertasawuf/mendekatkan dirinya pada ALLAh dengan cara beriman kepadaNYA dan berdoa kepadaNYA.
Rasulullah bersabda yang artinya :”Al-Ihsan, adalah hendaknya engkau menyembah kpd Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya, maka apabila engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.(HR. Muslim, Tirmidzi, Abi Daud dan Nasa’i)
Jadi Dengan tasawuf seseorang bisa mencapai al-Ihsan yg merupakan wujud nyata dari praktek al-Islam dan al-Iman. Karena tasawuf mengintegrasikan dunia syari’at dan hakikat.
2.4 HUBUNGAN ILMU KALAM, TASAWUF DAN FILSAFAT
Dari uraian di atas, terdapat titik persamaan dan perbedaan antara Ilmu Kalam Filsafat,dan Tasawuf.Persamaan pencarian segala yang bersifat rahasia (ghaib) yang dianggap sebagai 'kebenaran terjauh' dimana tidak semua orang dapat melakukannya dan dari ketiganya berusaha menemukan apa yang disebut Kebenaran (al-haq). Sedangkan perbedaannya terletak pada cara menemukan kebenarannya.Kebenaran dalam Tasawuf berupa tersingkapnya (kasyaf) Kebenaran Sejati (Allah) melalui mata hati. Tasawuf menemukan kebenaran dengan melewati beberapa jalan yaitu: maqomat, akhwal kemudian fana'.Sedangkan kebenaran dalam Ilmu Kalam berupa diketahuinya kebenaran ajaran agama melalui penalaran rasio lalu dirujukkan kepada nash (al-Qur'an & Hadis). Kebenaran dalam Filsafat berupa kebenaran spekulatif tentang segala yang ada (wujud) yakni tidak dapat dibuktikan dengan riset, empiris, dan eksperiment. Filsafat menemukan kebenaran dengan menuangkan akal budi secara radikal, integral, dan universal.
Walaupun dari ketiganya mempunya metodologi yang saling berbeda namun antara ilmu kalam, tasawuf dan filsafat,mempunyai hubungan saling menguatkan dan membantu dalam mencari kebenaran yang menjadi tujuan utama ketiganya.Yaitu pencarian segala yang bersifat rahasia(ghaib)yang dianggap sebagai kebenaran terjauh' dimana tidak semua orang dapat melakukannya dan mencari apa yang disebut kebenaran(al – haq).











BAB II
PE
NUTUP

3.1 KESIMPULAN
Ada kemiripan objek dalam kajian Ilmu kalam,filsafat dan tasawuf. Masalah Ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya merupakan objek kajian ilmu kalam.Sedangkan objek kajian filsafat adalah masalah Ketuhanan disamping masalah alam,manusia dan segala sesuatu yang ada.Sementara itu objek kajian tasawuf adalah Tuhan,yakni upaya –upaya pendekatan terhadap-Nya.Jadi pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan keTuhanan merupakan kesamaan bila dilihat dari aspek objek ketiga ilmu tersebut
Baik ilmu kalam,filsafat,maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama,yaitukebenaran.Walaupun dari ketiganya menggunakan cara yang berbeda – beda.Ilmu kalam dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang Tuhan dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya.Filsafat dengan wataknya sendiri pula,Berusaha menghampiri kebenaran ,baik tentang alam maupun manusia(yang jelas terjangkau ilmu pengetahuan atau di luar batas jangkauannya) atau tentang Tuhan.Sementara itu tasawuf juga dengan metodenya yang tipikal,berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan spiritual menuju Tuhan.Namun padda intinya tujuan yang dicapai adalah sama,yakni sebuah kebenaran.













DAFTAR PUSTAKA

Ø  Saefuddin, Endang Anshori. 1987. Ilmu Filsafat dan Agama. Surabaya: PT bina Ilmu
Ø   Offst Nata, abuddin. 2001. Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Ø  Rosihon,Abdul Rozak.2001.Ilmu Kalam Untuk IAIN,STAIN,PTAIS.Bandung: CV.Pustaka Setia
Ø  Nasution,Harun.1986.Teologi Islam,Aliran-Aliran,Sejarah Analisa Perbandingan.Cetakan V:UI-Press
Ø  Hamka,haq.2007.Al-Syathibi,Aspek Teologis Konsep Mashlahah dalam kitab Al-Muwafaqat.Surabaya:Erlangga



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar